0

Happy Birthday, My (X) President!

Posted by Bagus on 1:29 PM

Terbangun dari tidur membuatku pergi dari dunia mimpi dan kembali hidup di dunia nyata. Seperti biasa ku meraih HTC One-ku dan melihat apa yang telah terjadi di dunia ketika aku terlelap tak berdaya.

Kalender event menunjukan acara yang akan terjadi pada tanggal 28 Oktober 2013. Ku hanya bisa melihat namanya. K.Pikirku.

Jemari menari di atas layar, menyusuri setiap aplikasi yang ada di dalamnya. Tak pernah tak melihat wajahnya ketika diriku membuka aplikasi social network semacam FaceBook atau Path.

Wajah dengan gurat senyuman terlukis padanya dan rambut hitam yang menutupi sebagian besar jidatnya, membuat hatiku tergetar. Capitol Building berdiri tegap di belakangnya. Tak ku sadari aku telah menatapnya begitu lama. Do you miss me, President? Tanyaku dalam hati.

Seketika ingatan masa lalu menghampiri diriku. Modus Drama Queen pun telah diaktifkan dalam otakku. It was about 6 years ago ketika aku pertama kali bertemu dengan dirinya, sama-sama masih duduk di bangku sekolah, masih polos, dan belum mengenal dunia.

Kemudian aku dan dirinya terpisah selama beberapa tahun. Tak ada kontak sama sekali. Dia melanjutkan kuliahnya di Ibu Kota, sedangkan aku masih berusaha mengisi otak kosongku di tanah kelahiranku.

Dank FaceBook diriku kembali menemukannya ketika diriku telah lulus dari bangku sekolah dan sedang mempersiapkan studiku untuk menggapai pendidikan lebih tinggi di negeri orang. Kami saling berbagi cerita, bagaimana perkuliahannya disana, bagaimana diriku akan pergi ke Kampung Halaman Einstein, dan bagaimana dia menyusun kata mengungkapkan bahwa dia masih mencintai diriku.

Pada suatu hari di bulan Agustus 2012 akhirnya kami berdua bertemu lagi di tanah kelahiran kami. We didn't talk too much, though. Aku kerap kali berpikir bahwa dirinya adalah sosok yang digambarkan Marina dalam lagu Starring Role.

Akankah dirinya terbuka? Menyadari kesalahannya? Dan memegang segala hal yang keluar dari bibir manisnya? Ku sadari dia adalah Quicksand-ku, favorite dari sekian banyak yang ada. Namun secara langsung dia adalah Shadow-ku. Bersuara sangat keras namun terdengar begitu jauh.

Aku percaya, ketika pertemuan selanjutnya terjadi. Hal yang sama akan terjadi lagi. Dan setelah itu, nope. Nothing happen(ed). Diriku sudah hafal di luar kepala kronologi yang akan terjadi. Aku berharap dia berubah, tapi pertanyaannya. Who am I?

Well, I keep telling you kataku seraya melihat fotonya berdiri di depan garuda emas. If you want me, like kids want candy, you betta #WorkBxxch. Kepastian. Hanya itu yang aku inginkan dari dirinya. Aku seharunya pun tahu apa yang harus dilakukan ketika dirinya kembali mengulang kesalahnnya. Namun, aku tetap berdiri disini, menanti. Berharap keajaiban terjadi.

Dan ketika ku menunggu, ku bersinggah di beberapa rumah, berusaha menghangatkan diri. Namun, apa arti sebuah rumah yang akan lenyap oleh waktu jika diriku bisa mendapatkan rumah  yang kekal dan abadi? Dimana lagi kah rumah ini jika bukan di dalam hati mu? Tapi pertanyaannya adalah, apakah dirimu akan membuka pintu untuk membiarkan ku masuk dan menghabiskan sisa hidupku di dalamnya?

Dan jika tidak, anggaplah semua yang ada di dalam pikiranku, harapanku, sebuah mitos yang tak benar adanya. Kemudian ketika diriku tahu tak ada rumah yang membukakan pintunya untukku. Aku akan membangun satu, berharap seseorang dengan luka yang sama bersinggah disana dan berbagi ceritanya. Dan jika beruntung, orang yang mau tinggal selamanya untuk menghabiskan hidupnya dan membagi keluh-kesah, canda-tawanya.

Mode Drama Queen telah dinonaktifkan. Diriku kembali ke keadaan normal. Ku hanya bisa tersenyum kecil melihatnya yang telah (kembali) mewujudkan mimpinya untuk menjelajahi dunia. Ku berharap dirinya akan selalu bahagia, dimanapun dia berada.

Happy 21th Birthday, My (X) President.



0

Hanyalah Sebuah Potongan

Posted by Bagus on 10:14 AM
Aku berdiri di antara rak rak sebuah supermarket besar di Denpasar. Mataku berpaling dari kiri ke kanan, berusaha menemukan harga termurah. Kaki ku langkahkan melewati berbagai produk-produk yang seakan berteriak, „take me or leave me“ (Well, I’m in Germany right now, and this „“ sign is pretty odd)

Galaxy Ace yang terselip di kantong bergetar. Aku menatap layar. Sesuatu menunjukan dia akan datang. Selang beberapa menit kemudian, munculah batang hidungnya. Aku menatapnya. Berpikir. Apakah ini yang terbaik? Parfumnya, atau bau deterjen yang ia gunakan, langsung menganggu pusat syarafku. Kami lalu balik ke tempatku.

Selama di jalan. Aku kembali berpikir. Hey, is this what I want? Is it right? I mean… Am I too böse to do this? Beribu pertanyaan memenuhi kepalaku. Tak satupun terjawab. Tak terasa rumah telah di depan mata. Sekejab dunia begitu cepat dan kami menemukan diri kami di dalam kamar.

Aku ingat, kamarku saat itu terasa sangat suram walaupun matahari bersinar di luar. Cahayanya sembunyi-sembunyi menerebos melalui jendela dan celah antara gorden. Dua mata Britney Spears menatap kami, seakan menjadi saksi.

Detik, menit, dan kami tak lagi sebuah kesatuan. Aku tak tahu harus melakukan apa. Semua begitu salah. Everything was so effing damn awkward. I even forgot how to hug. Eff me.

Manusia hanya bisa bersatu dari dua buah potongan. Jika potongan ketiga muncul, maka potongan kedua antara harus dilepas atau dipertahankan. Dan aku tak tahu. Apakah aku harus mengignore potongan ketiga dan bertahan dengan potongan kedua atau aku harus melapaskan potongan kedua dan menyatu dengan potongan ketiga?

Aku pernah mendengar sebuah Quote „Tak akan ada pikiran lain jika potongan kedua sangat berarti ketika potongan ketiga muncul.” Dan aku mengapplikasikannya. Hari itu juga, aku menjadi potongan baru. Dan begitupun dia.

Tapi, aku melupakan sesuatu yang sangat penting Apakah potongan ketiga dapat menyatu dengan potongan pertama? 

Dan hingga kini aku hanyalah sebuah potongan. Tanpa potongan baru yang menyatu dan membuat kami menjadi hal yang sesungguhnya. Memang benar banyak potongan bermunculan sebelumnya, tapi tak satupun pas. Haruskah potongan itu ditunggu ataukah dicari?
 








Ill. Source: Deviantart

0

Hamburg: Saksi Kesepian-ku

Posted by Bagus on 9:45 AM

It's been awhile, I shouldn't have kept you waiting. But I'm here now. 

Sebait lirik dari lagu Britney Spears, Break The Ice, terdengar nyaring di telinga. Seraya jemari menari gemulai di atas keyboard, pikiranku masih tertuju pada satu orang... Dirimu.

Aku mengacak-acak rambut hitamku yang mulai melebat di atas kepala. Menghela nafas sejenak dan kembali menulis. Terkadang aku menggaruk kepala seolah-olah berpikir keras mengenai apa yang ingin aku tulis padamu.

Lebih dari 3 bulan sejak kedatanganku di bulan November hatiku tak memiliki tempat yang pantas. Memang sesekali hatiku terasa bahagia di beberapa tempat, namun itu hanya sementara. Apa arti kesementaraan jika aku bisa menanti (berharap dan mendapatkan mungkin) kekekalan?

Sekarang kata kata "You're beautiful, drop dead. Beautiful, drop dead..." terngiang-ngiang di kepala ketika lagu dari album Femme Fatale terputar di iTunes.

"Yes. You are indeed beautiful!" kataku dalam hati.

Belakangan ini aku selalu memikirkan dirimu. Dirimu yang... yang aku pikir selalu ada disisiku, yang selalu menemaniku... di kala yang lalu. Aku berpikir tentang waktu waktu yang kita lalui bersama ketika kita masih sibuk Sprachkurs di UNS, ketika kita bercanda ria bersama yang lain, bahkan ketika aku berjalan sendirian tanpa dirimu, karena aku tahu kamu akan selalu ada di rumah dan menyambutku dengan keberadaanmu. Aku... menikmati itu semua.

Namun kini, hanya Acy, Gadroid, dan Desi yang mampu mengusir gundahku untuk sementara waktu. Aku tak lagi bisa memandangi wajahmu, mendengar suaramu, merasakan nafasmu, dan melihat keberadaanmu. Doch, aku bisa melihat "mu", tapi apakah aku bisa menyentuhmu dan merasakan kehidupan yang mengalir di nadimu? Tidak.

Disamping semua itu, aku harus tahu dan sadar. Keberadaanmu mungkin hanyalah sebuah ilusi yang datang terlambat dan pergi terlalu cepat. Aku juga harus ingat, kita berdua terpisah oleh sebuah garis. Dan sekarang terserah kita berdua, apakah kita ingin cross the line dan mengorbankan diri kita masing masing demi saling memiliki dan mencapai kekekalan abadi? Namun, pernahkah kita berpikir akan X-Factor yang dapat menghancurkan kekekalan abadi itu?

Kesendirian ini membunuhku perlahan. Namun aku percaya. Penantian yang berakhir menjadi kesendirian ini pasti akan ada hasilnya nanti. Aku hanya perlu bersabar, dan menyatukan kedua tanganku seraya menyebut namaNya.

The Riddle played The Revenge and it's getting Reloaded.


0

Awal adalah Sebuah Jawaban

Posted by Bagus on 5:32 PM
Rasa sepi di hati yang tak kunjung mendapatkan keramaian yang pantas mulai bertambah seiring hari semakin malam. Lantunan suara dari Who You Are oleh Jessie J memenuhi ruangan tempat aku sekarang duduk di depan layar monitor seraya menghantamkan jemari ke atas keyboard. Sesekali aku terdiam untuk memikirkan apa yang sedang aku kerjakan di hari sebelum apply Visa..

Ah... Ini lebih penting! Pikirku dalam hati. Terdengar bodoh memang, tapi begitulah yang terjadi. Jika tulisan ini tidak selesai. Aku tak akan bisa tidur dan bisa bisa besok aku benar benar batal apply Visa. Tapi, jangan sampai terjadi. Terlalu riskan risiko yang akan timbul. Bayangkan saja hanya karena masalah yang terlalu sering aku hadapi dan aku pikirkan berlarut larut bisa mengancam masa depanku di Jerman. Jangan sampai!.

Ok, kembali ke topik. Aku saat ini. Jujur.... Sedang entah-apa-kata-kerja-yang-cocok.... Jatuh cinta? Oh God. It sounds so cheesy. Tapi tak dapat dipungkiri. Aku memang sedang jatuh... Berusaha untuk berdiri dan menggapai apa yang aku ingingkan. Mereka menyebutnya... Cinta.

Bayangan demi bayangan beterbangan di kepalaku. Bukan hantu ataupun roh gentayangan dari tahun 80an. Namun adalah kepulan memori memori dari orang orang yang telah singgah menanamkan suka dan duka di hatiku. Jikalau aku berkaca dari post post sebelumnya, hampir semua tulisan di blog ini isinya GA LA U!!! Tidak bisa disangkal lagi, galau adalah bagaian dari kehidupanku. Nama demi nama telah menghiasi hati, pikiran, dan blog ini. Namun seiringnya waktu, ada nama nama yang harus digantikkan oleh nama yang baru karena nama nama lama itu kini hanya bisa menjadi butiran debu yang senantiasa beredar diseluruh jiwa dan rohaniku. Hanyalah sebuah debu..

Entah apa yang aku pikirkan sekarang, aku merasa sesuatu telah merasuki diriku... lagi. Kasusnya sama. Aku dekat dan aku nyaman. Namun kali ini, aku benar benar tidak tahu harus berbuat apa. Daya yang dipancarkan olehnya terlalu kuat. Aku mesti menghindar? Tidak mungkin! Aku tidak munafik! Bahkan sekalipun dia bakal mengundang aku untuk bertemu dengan sisi lain darinya aku akan mengatakan iya! Aku senang dengan apa yang dia telah temukan. Walau dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku ingin dia menemukanku. Aku juga tidak akan mengulangi kesalahan yang sama berulang ulang: kehilangan orang yang aku cintai karena aku salah bertindak. Bahkan jika aku melakukannya kesalahan itu sekali lagi, apa lagi padanya, dalam nama Tuhan aku yakin sesuatu yang buruk akan terjadi, jauh lebih buruk dari sebelum sebelumnya, jika aku tidak memikirkannya dan meminta bimbingan Tuhan! Aku tahu Tuhan salalu berada di sisiku. Aku yakin seyakin yakinnya walaupun aku tidak rajin berdoa 100x sehari..

Notice me and take my hand, adalah lirik yang begitu dalam menusuk ke paru paru ketika Everytime oleh Britney Spears memenuhi indra pendengaran. Ya, aku ingin dia mengetahui kehadiranku... Tak hanya aku... Tapi rasa sayang yang aku miliki padanya. Aku ingin berkata padanya, "Take my hand and let's fly to Nirvana together." Namun aku tahu semua itu adalah mimpi yang hampir tidak mungkin aku wujudkan. Chance nya? Hanya 0.1% Percaya deh.. 

Aku sejujurnya mengingkan dirimu mengetahui bagaimana perasaanku padamu. Sangat ingin, seinging inginnya. Terkadang aku menatap diriku di cermin dan bertanya. Pantaskah seorang Andryan mendapatkan dirimu? Aku tahu aku tidak jatuh pada seorang Dewa, aku lebih memilih jatuh cinta pada seorang manusia, yang penuh dengan kekurangan. Karena hanya dengan mencintai kekuranganmu, aku memiliki alasan untuk terus bersamamu karena kesempurnaanmu. 

Aku selalu tak mempercayai diriku kehilangan jati diri ketika mencintai seseorang, terlebih pada seorang malaikat Tuhan seperti mu. Berbagai perbuatan yang aku lakukan untuk mendapatkanmu seperti dosa besar di mata Tuhan yang harus aku tebus di Neraka nantinya. 

Aku perlahan membentuk wajahmu dalam pikiranku. Aku mulai membayangkan kau sekarang berada di belakangku. Menatapku penuh kasih. Dan ketika aku membalikkan badanku, kita berdua sudah berpelukkan dan membagi kehangatan yang selama ini telah aku rindukan dari seorang insan titisan Tuhan. Dirimu akan melebur segala dosaku dan menghapus segala kekuranganmu. Ketika kita akhirnya menyatu, hanya ada kesucian yang tak ternoda. Aku percaya, ketika jodohku (read: dirimu) datang, itu akan seperti kedatangan Jesus ke dua. 

Bermimpi adalah untuk mempercayai. Bermimpi untuk mendapatkanmu adalah mempercayai untuk mendapatkanmu juga. Dan aku tidak munafik dan muluk muluk. Aku tidak ingin kamu melepas apa yang kamu punyai sekarang. Aku mungkin terdengar seperti menginginkan kamu melapaskan segalanya dari mu, tapi itu bukanlah apa yang aku mau. Aku hanya ingin kau tahu... Aku mencintai kamu dan aku mau kamu tetap ada bersamaku no matter what happen, aku ga mau semuanya berubah hanya karena kalimat, "aku cinta kamu." 

Terlalu cepat mengatakan cinta? Aku tak berpikir begitu. Aku berjuang untuk menyakinkan diri lebih lama dari pada yang kamu pikirkan untuk memantapkan hati bahwa awal dari segalanya di mulai adalah jawaban dari apapun yang aku cari. Dia adalah KAMU. 

Aku tak ingin lagi melakukan kesalahan seperti biasa yang telah aku bilang. Dan ini... Semoga.... adalah langkah terakhir. Jika aku mengambil langkah lagi untuk mengikuti egoku, aku yakin. Semua akan jauh lebih berantakkan. 

Dan ketika waktu telah memanggil, dan diriku belum menyatu dengan dirimu. Aku hanya bisa melapaskan segelanya seperti yang aku lakukan di hari hari lalu. Namun sebelum dirimu benar benar meninggalkanku, aku ingin dirimu jangan mengucapkan kalimat, “Sampai Jumpa!“ Aku ingin kamu menatap mataku, sehingga aku dapat menyimpan dirimu benar benar di dalam diriku. Dan seketika kita membeku dalam waktu, terkunci di waktu yang sama, dan usia yang sama. Aku jujur tak ingin berpisah dengan dirimu, aku disini, dan kamu disana. Kamu mungkin tak akan peduli dengan jumlah tetesan kristal yang jatuh dari rongga mataku, tapi aku ingin kamu tahu. Tetesan ini adalah awal dari sebuah jawaban. Antara aku harus benar benar menunggumu atau mengikuti waktu yang terus berjalan tanpa henti. Ini adalah penjara bagiku, namun aku tahu. Aku menunggu seseorang yang pantas untuk aku tunggu di balik jejuri cinta yang penuh dengan rasa pahit.



2

Surya Sudarma: BersamaNya di Altar Surga

Posted by Bagus on 8:59 PM
Seems like it was yesterday when I saw your face
If only I knew what I know today
~Christina Aguilera
Terbangun dari hibernasi yang panjang, ku paksakan tubuhku bergerak mendekati Compaq, setengah sadar aku memasang USB modem dan menghubungkannya ke internet.

Cahaya layar yag begitu terang menusuk mataku yang masih malas-malasan membuka kelopaknya, dengan satu jari menari di atas key board, ku ketikkan situs-situs yang wajib di kunjungi setiap hari.

Berita kekalahan Munchen tampak di layar, kecewa, aku close situs itu tanpa ba bi bu. Kemudian aku check mention Twitter, dan pagi yang indah berubah menjadi penuh duka.

Teman seperjuanganku, Ayu, mengatakan sesuatu yang diakhiri dengan kata 'tenang disana'. Penasaran? Tentu. Aku buka timelinenya, dan ketahuan sudah apa yang terjadi. Selama beberapa saat aku mencoba benar benar bangun dari tidur, tapi ternyata aku memang sudah bangun, dan aku tidak bisa menerima kenyataan ini yang benar benar tejadi: bahwa Surya Sudarma, telah pergi meninggalkan kami di dunia yang keji ini.

Aku berusaha meyakinkan diriku lagi dengan membuka FaceBook, dan di wallnya terpampang sudah berbagai wall tentang belasungkawa yang dihaturkan kepadanya. Dengan cepat, aku mengkabari Mama, dan ternyata kemarin Mama dan Papa sudah membesuknya, tanpa memberitahu ku.

Kepergiannya yang begitu cepat diakibatkan oleh gagal ginjal. Sebelum kepergiannya, ia yang berasal dari Singaraja ini, pernah masuk ke ICU. Namun, Tuhan rupanya memiliki rencana lain, Ia memanggil Surya di usia mudanya.

Teman Masa Kecil


Aku kenal dengan sosok Suraya Sudarma sudah cukup lama. Kami pertama kali pertemu di sebuah acara bernama Family Day yang setiap tahunnya diadakan oleh kantor orang tua kami, LG. Kedekatanku dengannya bisa dikatakan karena kami berdua adalah satu satunya yang umurnya sama, sisanya lebih muda, jauh lebih muda, dari kami.

Terakhir kali bertemu tatap muka dengannya jika aku tidak salah ingat adalah ketika aku kelas 3 SMP. Selebihnya kami tidak pernah bertemu dan hanya berkomunikasi lewat FaceBook.

Terakhir kali berkomunikasi di FaceBook adalah pada tanggal 3 April, saat itu ia mengatakan ia ingin membeli barang di EBay, selebihnya kami tidak pernah kontak-kontakkan lagi. 

Langkah Kaki

 

Kemarin malam, sekitar jam satu dini hari waktu Indonesia barat, aku dan Edward sedang chatting di Yahoo!Messenger. Pembicaraan kami tiba tiba berubah ketika Edward mengatakan ia mendengar langkah kaki di depan rumahnya namun tak ada orang disana.

Aku gak mau berspekulasi aneh aneh dan mengubungkannya dengan kejadian ini, tapi ini terlalu kebetulan menurutku. Aku menanggapinya secara positive, aku menganggap langkah kaki itu adalah salam terakhir darinya yang Edward harus sampaikan ke aku.

 Kedamaian yang Abadi


Sekarang ia telah mencapai kedamaian yang abadi. Sekarang pastilah dia duduk bersamaNya di altar Surga menunduk kebawah, melihat kehidupan kita yang akan berlangsung entah sampai kapan. Kepergiannya bukanlah akhir dari persahabatan yang telah kami jalin, karena jiwanya akan terus menemani kita walaupun raganya telah terbakar api ataupun terurai oleh bumi.

We Love You, Surya Sudarma!
18 September 1994 - 20 Mei 2012





2

Jakarta Fatale: Seminggu di Ibu Kota

Posted by Bagus on 6:48 AM
Satu minggu sudah aku berada di kota metropolitan Jakarta. Demi menuntaskan sebuah misi untuk mencapai mimpi nan tinggi, aku memberanikan diri melangkah keluar dari comfort zone-ku, Bali.

Di sebuah gedung pencakar langit bernama Gading Nias Residence, aku menghabiskan malamku di lantai 27 bersama Mama setiap hari. Sebelum Beliau pulang, hanya internet lemot, buku pelajaran, dan makanan buatan sendiri yang menemaniku. Kemacetan, polusi, dan orkestra klakson kendaraan bermotor menjadi pelangkap hari hariku.

Terdengar tragis memang. Terkadang aku berpikir untuk berhenti sebelum melangkah terlalu jauh. Namun aku percaya, pengorbanan ini pasti akan membuahkan hasil positif yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Namun, di balik semua itu, aku menemukan oase yang menyegarkan hari hariku setiap hari. Oase itu adalah Stufen International, tempat dimana aku dibimbing untuk mempersiapkan diri sebelum berperang melawan berbagai anak dari belahan dunia dalam bersaing menuntaskan misi masing masing di Deutschland.

Setiap pukul tujuh di hari Senin hingga Jumat, aku bersiap untung mengasah ilmu Bahasa Jermanku, bersama dengan Mama tercinta, kami membelah jalanan macet dengan X-Over silver yang beberapa minggu lalu di bawa oleh Papa ke Jakarta.

Stufen berada di IS Plaza, sebuah pusat kantoran di Jalan Raya Pramuka. Kantor Stufen terbagi menjadi beberapa ruangan, dimana ada 2 ruangan khusus untuk kami, para pejuang Stufen. Dua ruangan itu merupakan ruangan untuk Kelas Medizin dan Kelas Non-Medizin, masing masing kelas berisikan 9 orang siswa, dan aku berada di Kelas Medizin, kelas yang akan menjadi saksi perjuanganku.

Apa yang terbayang ketika aku memulai kelasku di hari pertama pada tanggal 7 Mei adalah:
  • Aku adalah orang tak berilmu mengingat pada tanggal 7 adalah hari pertama ku, namun hari ke lima bagi mereka .
  • Aku adalah satu satunya orang pribumi mengingat banyaknya brosur kuliah di luar negeri yang menampilkan orang orang bermata sipit dan berkulit putih dari pada orang orang pribumi (#NoOffense #NoSARA)
  • Aku akan bertemu dengan orang-orang super-duper kaya yang sombongnya selangit

Namun dengan cepat semua bayang-bayang itu menghilang bak kegelapan yang dilahap cahaya. Kita disini sama sama belajar, aku bukan orang pribumi sendiri, dan ya mereka kaya tapi mereka tidak sombong seperti yang aku khawatirkan. Puji syukur aku panjatkan.

Di kelas Medizin, seperti yang aku katakana sebelumnya, terdiri dari 9 orang—8 cowok, dan 1 cewek. Mereka adalah: Adhan, Egi, Adil, Rey, Rama, Vitto, Aku, Widi, dan Lia. Dan setiap hari Senin dan Jumat kami dituntun oleh Frau Audrey dan pada hari Selasa sampai Rabu kami diajar oleh Herr Hafid. 

Selama enam jam, berbagai materi diajarkan kepada kami. Suasana belajar yang asik membuat pelajaran yang berat tidak membebani kami karena kami terkadang ngelawak ditengah pelajaran. Tawa lepas dan guyonan gila ini mengingatkanku pada XII IPA 1, dimana kita selalu ketawa gak jelas bareng: suka gak suka tetep ketawa.

Dalam satu hari, kami mendapat dua session break. Di session kedua biasanya kita makan siang. Nah, ketika kita makan siang ini, aku gak pernah nyangka toleransi agamanya keren banget! Karena disini mayoritasnya Muslim, jadi yang non-Muslim nungguin mereka untuk Sholat dulu. Setelah selesai Sholat barulah kita makan siang bareng. Kita punya dua tempat favorite: warung tegal dan rumah makan padang. Cuman, akhir akhir ini kita lebih sering makan di warung tegal karena alasan harga dan variasi makanan.

Sekitar jam 14.45 kami semua pulang, beberapa siswa, baik dari kelas Medizin maupun Non-Medizin, balik bersama ke tempat kos mereka masing masing karena mereka kebetulan tinggal di tempat kos yang sama. Aku, yang tinggal di jauh sana, kembali bersama dua orang temanku: Rama dan Vitto. Karena kami sama sama pulang dengan Busway di stasiun Pramuka Lia hanya saja arah dan tujuan kita berbeda.

Setelah beberapa stasiun, aku turun di stasiun Pemuda Rawamangun dan kemudian naik angkot nomor 04 lalu naik angkot 13. Naik angkot di Jakarta sama Denpasar tentunya berbeda. Di Denpasar kita gak akan mendengar orkestra megah dari klakson kendaraan bermotor, sedangkan di Jakarta, baru naik aja orkestranya sudah dimulai. Belum lagi, kita berasa naik F1, ngebut serong sana serong sini bak kita bermain di Final Destination 6. Seru pun berbahaya.

Sepulangnya dari berpetualang di jalanan, aku langsung mengisi perut, mengerjakan Hausaufgaben, dan tidur. Sesekali aku menyempatkan diri untuk online dan bertegur sapa dengan teman teman di Bali, kadang aku hanya menonton HBO jikalau filmnya bagus.

Dan bahagia banget bisa menulis sebagian cerita yang aku alami di DKI Jakarta ini. Gak sabar buat pulang ke Bali tanggal 25 ini dan menceritakan langsung pada mereka yang ada disana!

0

Scientia One: A Place Where You Find A Little Piece of Heaven

Posted by Bagus on 7:05 AM


"We all know how to laugh, we know how to cry, we know how to be held tight, we know how to love back, we all know heart break. But the world keeps moving, and we keep moving with it. And everything we experience makes us realize how beautiful life really is."
~ Britney Spears
Liburan bersama Scientia One/IPA Fatale / IPA 1 akhirnya berakhir. Banyak hal hal porno, menyenangkan, dan menyebalkan yang terjadi. Dari nge-iGLO malem malem bareng Echa sampe acara jurit malam yang flop tapi menegangkan.

Tanggal 23 merupakan hari keberangkatan kita, sejumlah 36 orang mengikuti acara liburan ini: Abimanyu, Dony, Richie, Nugraha, Anita, Nerissa, Wilbert, Raymond, Yoga, Ervan, Jemmy, Mentari, Ulfia, Eka, Elsye, Enol, Janice, Ade, Britney, Rico, Oscar, Rexy, Septa, Yustika, Clara, Echa, Melisa, Lia, Rezza, Lukman, Agus, Christian, Dayu, Paula, Rata, dan wali kelas XII IPA 1, Pak Renes

Aku berangkat ke sekolah sekitar pukul sembilan bersama Jemmy dan sesampainya di sekolah ternyata tampang tampang jelek korban UN telah mewarnai WarungKu. Aku sebenanrya merasa senang tapi juga erasa ketakutan. Senang karena mereka tidak meninggalkan kita berdua dan takut kalau kalau mereka bakal menyerang kita berdua karena udah ngaret dari jam yang ditentukan.

Setelah memberesi urusan masing masing, sebelum berangkat kita semua berdoa dan dipimpin oleh Rico. Seusai berdoa kami langsung berangkat menuju perhentian selanjutnya, Kebun Raya Bedugul (read: tempat favorite anak anak SD Tamasya).

Transportasi perjalanan tamasya ini dibagi menjadi tiga: Elf, Pajero, dan Elf 18. Aku berada di Elf yang dikemudikan oleh Septa. Di Elf ini ada: Oscar, Yustika, Wilbert, Septa, Ratna, Paula, Raymond, Elsye, Eka, Yoga, Agus, Clara, Echa, Jemmy, dan Aku (Kalau salah mohon maaf, aku agak lupa ._.)

Perjalanan menuju Kebun Raya Bedugul diwarnai canda tawa anak anak SMA yang akhirnya terbebas dari Ujian Nasional walau mereka masih terbelengu oleh pertanyaan, "Mau kuliah dimana?"

Sesampainya di Kebun Raya Bedugul kita semua (read: cowo-cowo kecuali Rico) langsung party sex main futsal di tempat yang gak pantes buat dipake main. Bayangin aja, ketika kamu harus menendang bola seraya berlari di tanah dengan sudut kemiringan 30 derejat yang berada di atas 35958451 meter permukaan laut #Lebay

Puas (read: capek) bermain futsal, kita semua langsung makan nasi kotak yang sudah disiapkan oleh panitia: Yustika, Septa, dan Aku. Setelah perut kenyang, acara dilanjutkan dengan acara bebas. Ada yang foto-fotoan, main capsa (as always), main gitar, atau bahkan hanya bernafas menghirup udara segar.

Mentari mulai berada di atas kepala, sinarnya mulai membakar kulit, kita akhirnya melanjutkan perjalanan ke tempat prostitusi penginapan yang akan menjadi tempat kita tidur selama dua malam.

Perjalanan menuju hotel tidak seasik perjalanan menuju tempat favote anak SD tamasya (menurut sudut pandang Andryan), alasannya gampang ditebak: bad mood.

Sesampainya di hotel, Mood kembali balik lagi. *Teriak YES yang kenceng dalem hati*. Kita disini memasan 10 kamar. Aku kebagian kamar nomor 106, tapi aku gak bermalam satu malampun di kamar itu. Aku bermalam di kamar 105 dimana aku bisa nge-iGLO sampe puas kalo rembulan sudah menampakkan dirinya.

Hari pertama di penginapan diisi dengan game game super junior flop yang memancing birahi dan nafsu adrenaline: dari lomba kelereng di atas air, sampai jurit malam di hotel yang memiliki sejarah mistis tersendiri.

Lomba kelereng di atas air ini sama seperti halnya lomba kelereng (yang kelerengnya di taruh di atas sendok) hanya saja ini di lakukan di kolam renang. Ternyata oh ternyata, ini susah dilakukan walaupun kamu adalah seseorang yang pernah juara tiga porjar olahraga renang gaya bebas putra 50 meter #LirikKananKiri

Aksi lainnya yang dilakukan di kolam renang tentu saja tradisi cebur-ceburan dan juga berfoto narsis ala model Gema Sanjose.

Malamnya, kita dinner di sebuah restarurant (read: warung) yang menghidangkan ikan laut berserta serangga hidup yang sangat lezat jika dimakan tanpa sepengetahuan kita, kalau kita tahu, teruhan nafsu makan akan hilang. Disini aku melihat bagaimana Nerissa berusaha untuk memakan makanannya. Itu KEREN banget!

Sehabis dinner, kita langsung kembali ke hotel dan berjurit malam ria. Rencananya jurit malam ini, satu satu anak XII IPA 1 berjalan sendiri sendiri di kegelapan mencari cahaya, dan tempat di mana ada cahaya itu akan duduk Madam Yuliana berserta Aku yang membawa sebuah petunjuk untuk game kedua, namun semua itu berubah ketika negara api menyerang.

Game yang sudah kita setting itu berubah menjadi: seluruyh peserta dibagi menjadi dua team. Satu team jalan duluan, dan satu team lagi berjalan setelah team pertama berjalan. Kondisi hotel: terang benderang. -__- Game ini diulang sampai dua kali karena miss komunikasi antara panitia. Tapi, kesalahan ini murni manusiawi.

Kesalahan pertama karena lampu hotel tidak dimatikan, kesalahan kedua karena masing masing panitia punya versi game nya sendiri. Alhasil: FLOP.

Selain Flop, game ini berhasil membuat gempar satu hotel karena salah satu dari peserta, Elsye, katanya melihat penampakkan orang jongkok di bawah meja, dan aku berani teruhan itu BUKAN LADY GAGA. Akibat munculnya sosok BUKAN LADY GAGA ini, game jurit malam akhirnya di hentikan dan panita ditambah beberapa peserta lain seperti Oscar dan Anita akhirnya membahas atas apa yang terjadi. Ada beberapa kemungkinan mengapa hal ini terjadi:

  • Elsye lagi bad mood karena belum denger lagu Britney kecapekkan
  • Bantennya kata Eka kurang. 
  • Memang BUKAN LADY GAGA
Kita menyimpulkan bahwa:

  • Elsye memang lagi Bad Mood
  • Bukan masalah banten, tapi hati nurani untuk ikhlas bersembahyang
  • Semua tempat memang ada BUKAN LADY GAGA, hanya masalah apakah halusinasi kita lebih kuat dari pada iman dan pikiran kita 
Setelah selesai berdiskusi dan menyimpulkan apa yang terjadi, kita semua beristirahat karena hari kedua akan lebih capek lagi.

Malam pertama aku habiskan bersama Echa di atas satu ranjang di kamar 105, rasanya itu iGLO banget. Wakakaka. Malem malem, aku liat Echa kedinginan banget, akhirnya aku kasi pinjem slayer-ku ke dia, tapi malah ditendang O.O, sekitar pukul 4 atau 5 pagi, tubuhku gak kuat lagi untuk organsme menahan dingin, akhirnya aku pergi ke kamar sebelah untuk mengambil selimut dan kembali tidur lagi dengan selimut yang hangat. Paginya, Echa komplain karena aku gak bagi selimut. -,- Serba salah.

Hari kedua tiba, beberapa anak-anak cowo pergi memancing, dan beberapanya lagi snorkling di hotelnya Lukman. Anak anak yang enggak pergi memancing dan snorkling akhirnya bermain Tebak Titit Gambar yang berhubungan seputar ujian nasional.

Game yang mewajibkan kita untuk menebak sebuah kata melalui sebuah gambar, garfik, dan/atau tulisan ini dimenangkan oleh teamnya Paula - Echa , disusul oleh Rico - Anita, dan Dayu - Mentari.

Game kedua untuk hari kedua adalah Mencari Bendera, game super seru ini mewajibkan mereka mencari bendera berdasarkan clue yang diberikan panitia. Rasanya asik banget ngeliatin para peserta lari larian berebut mencari bendera. Game ini dimenangkan oleh teamnya Raymond.

Pada malam harinya, kita semua BBQ-an dan juga seperti tradisi tamasya lainnya, saling menyampaikan pesan kesan. Jujur saja, pesan kesan yang aku sampaikan waktu tamasya kemarin itu belum lengkap karena masalah durasi. Tapi all over, hampir semua nya tercover. Semoga nanti sempet bikin open latter buat XII IPA 1 deh, amin.

Malam kedua aku juga kembali tidur bersama Echa, satu ranjang, bedanya kali ini kita satu selimut. Hahahaha.

Akhirnya hari ketiga tiba, kami semua langsung beres beres dan check out. Perjalanan dilanjutkan ke Gigit Watarfall kemudian makan siang di Bintang Restaurant yang konon katanya milik Anita. Di hari ketiga ini, hampir 12 jam aku memakai baju kebalik dan gak ada yang tau kecuali Dayu. -__-

Selesai makan kita semua balik ke sekolah dan kembali ke rumah masing masing. Aku balik bersama Jemmy dan setelah nganterin dia pulang langsung nulis blog ini. Sesaat setelah aku selesai menulis blog ini, aku tersadar telah memiliki kesempatan yang mungkin tidak akan terulang lagi. Kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang hebat. Love you all #ScientiaOne


Sorry kalau ada yang gak tercover, kesempurnaan itu bukan milik manusia.

"Kita tertawa, kita sedih, kita berpelukan erat, kita saling mencintai, kita saling patah hati. Waktu berjalan tanpa henti, dan kita terus berjalan bersamanya. Dan semua yang kita alami membuat kita tahu bagaimana indahnya hidup."
~ Britney Spears (dengan pengubah seperlunya)



Copyright © 2009 Andryan's Blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.